Sabtu, 04 Juni 2016

Naik Turun Sepatu Terinjak

Di hari ini cuacanya sangat bersahat dengan kami. Rencanya sih mau naik gunung. Yang kaya my trip gitu. Sehabis sholat jum'atsih rencanaya sih berangkat., habis makan makan dirumah kumpul kumpul lalu berangkat. Ada yang ambil air ada yang ambil buku polpen ada juga yang mengabil celana dalam... ( emangnya mau di water bom ) blo onnn. Yah.. Yang lebih sadisnya lagi sih ada yang diam diam keluar rumah takut di marahin ibunya. Satu satu persatu teman teman gue datang, motor motornya sih ada yang bunyi dok dok dok, ada prap prap prap. Iya milik gue motor ya sih baik kelasik gitu supra warnanya hijau di penuhi tanah yang lebis sadisnya lagi kawat kawat ( jari jari ) ban gue berkarat kiranya sih mau ganti yang baru. Teman gue yang namanya aji tuh gayanya sih keren banget tapi sayangnya dia itu kaya itu seperti gap gap gitu. Hahaha. Teman teman gue kiranya sih bodoh dari pada gue. Agag blo on gitu ada pahit pahitnya gitu, kaya tai semuanya. Lanjutt.....

Gue sampai di perkampungan untuk menaruh motor motor butut. yah tapi disana tidak terlihat orang untuk bertanya, menaruh motor motor butut kami mungkin mereka takut dengan kami. muka kami lebih sadis dari pada anjing. Satu orang dari kampung di sana menyambut kami( sebut saja pak RT). Pak RT bertanya.
"Handak kamana buhan ikam" gue dan teman tidak mengerti pembicaraan apa yang dia bicarakan.
"Ke atas pak. Minta ijin naik pak" sambil takut meliat pak RT itu. Dan nunjuk nunjuk keatas.
"Hi ih, andak ha di sini kunci gulu. Kaina kami manjaga akan". Perjalan kami berlanjut.



karena Perubahan cuaca sangat terlihat sampai sampai muka gue yang gelap tidak terlihat tertutup oleh awan.. Huhuhu. Di awal perjalaan naik satu persatu air hujan turun. Teman gue yang bernama dandi sebut saja karang dia  berada di depan berteriak "hujan hujan" "hujan hujan" . Teman gue semuanya tahu Itu adalah hujan. Di sana ada pondok kecil kira kira sih untuk (tit tit) (tit tit), Bermalam di gunung jaga kebun sengkung. Huhu huhu. Ada yang pikik negatif nih. Di sana teman gue sakit mukanya sangat pucat.  Kira kira sih dia pengen pingsan. Gue ingat kata ibu gue jika dia pingsan gelitiki atau kasih acan. ( emang dia sadar kalau pingsan ) begooo..mereka bercerita macam macam kalau gue sih asek di bawah pondok ada panas panasnya gitu. Hahay. Di sekitar samping pondok ada pohon pohon sengkung. 1 jam kami berdiam di pondok tak terasa karena berbicara bla bla. tiba tiba hujan reda. Kami lanjutkan lagi perjalanan kami dengan do'a dan harapan bisa naik sampai tujuan.


Di perjalanan selanjutnya air air menggenangi jalan. Sepatu gue basah, dan ibu jari kaki sangat sakit. Mungkin karena rebuk( remaja buruk kukuan. Hahahaha. Sades. Di pendakaian terakhir sangat tajam. Ada satu teman gue yang terjatuh. Terus apa yang terjadi??? Yah dia terwa galak karena dia terjatuh hanya sekitar 0'1 M. Kira kira seperti itu. Gue tidak mengukurkan. Pikir. Setelah sampai di atas hati gue tersa lega rena pemandangan yang indah semua di daerah HST sampai balangan kiranya keliatan. Gue kan tidak tau. Karena gue tidak ada tropong untuk meliat sampai kesana. Pikir.

Sekitar gue terlihat di timur banyak gunung gunung. Di selatan banyak rumah atau lampu lampu yang indah, yah itu deh. Di sana kami tidak membawa makanan. Ada kacang yang bergelitakan satu persatu kami ambil untuk di bakar. Kami kan tidak bawa makanan cuman air, polpen, buku. Aneh.... Indah. Di sana kan habis hujan. Ada sebuh naga besar menutup gunung kami. Hati ku sangat senang seakan seakan gue berada di tengan naga itu. Yah itu adalah pelangi. Gue teruskan dengan pakai bagai mana gue trun.


 Tanahnyakan curam bangetkan. Kalau trunnya berdiri kiranya sih gue bakalan terjatuh. Gue berpikir keras bagaimana gue akan turun. Gue mendapatkan sari edi kecil. Munfkin tidak besar. Hahahaha. Ya jelas lah kalau kecil pasti ridak besar. Edi ya sih gue turun pakai kayu yang kaya di serial upin dan ipin gitu. Huhhuy. Di tengah perjalanan gue turun di sana kayu yang gue pakai pecah bokung gue berlubang. Ya jelaslah Bokung berlubang kalau tidak bagaimana mengeluarkan benda yang berbau. Hhhhh. Gue sangat kasihan dengan sepatu gue yang selalu gue injak, gue tidak sadar bah sepatu gue sangan berkurban. Terima kasih sepatu ku kan selalu mengingat mu.  Gue bangga dengan kamu sepatu.Ceritanya tidak ada yang seru lagi sampai kerumah. Gue akhiri nih cerita gue.

Pesan moral : jangan anggap pelangi itu sebagai naga, kalau bokung berlubang itu wajar, dan berterima kasihlah kepada sepatu karena sepatu berani mengurbankan nyawanya kepada kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar